06 Januari, 2010

2010 Glasses
Apa kabar? Ga terasa sudah masuk tahun yang baru lagi. Sebelum benar-benar terlambat, Selamat Tahun Baru 2010.  Semoga apa pun yang akan terjadi di tahun ini akan menjadi yang terbaik untuk kita semua. Amiin.
Aku habis liburan lumayan lama ke Singapura.  Lumayan, mumpung ada kakak yang tinggal di sana.  Beberapa foto oleh-oleh dari sana, menjelang malam pergantian tahun.  Diambil di Orchard Road, ambil tur gratis keliling Orchard naik bis bertingkat.  Lihat jalanan dan pertokoan-pertokoan di sepanjang Orchard yang dihias lampu warna-warni.



Terus ngapain lagi sih di Singapura kalo ga shopping?  Tentu, gaya shoppingku bukan yang keluar masuk mall-mall di sepanjang Orchard.  Keluar masuk mall sih gampang, tapi ya cuma masuk terus habis itu keluar, liat-liat terus keluar lagi Cool tanpa diakhiri dengan menenteng tas-tas karton bertuliskan nama toko-toko yang ada di dalam mall-mall itu. Ga ku-ku!

Aku di sana belanjanya di China town buat cari suvenir alias oleh-oleh yang rata-rata Sing $ 10 untuk 3 barang, alias 3 for $10.  Wah kalo sudah liat tanda begini di depan toko (atau syukur-syukur lebih murah lagi), aku baru semangat deh!  Dasar! Tapi biarpun murah aku tetap berusaha cari barang yang cantik tapi berguna lohh (membela diri ni!), aku ga beli gantungan kunci.  Walaupun murah banget tapi bosen full sama gantungan kunci dari S'pore.  Hasilnya aku beli tas yang dibordir dan berbahan 'seperti  sutera' dan kipas lipat dengan gambar khas Tiongkok kuno.  Kalau dipikir-pikir kemungkinan besar barang-barang itu banyak juga dijual di Mangga Dua (nyadar sambil garuk-garuk kepala).  Okelah, it's the thought that counts.
Foto atas kiri: interior salah satu toko di China Town.  Lampionnya cantik-cantik ya? Dia juga jual kartu poker dengan gambar repro dari lukisan/gambar/iklan Tiongkok kuno. Lumayan buat nambah koleksi.

Tempat belanja favorit nomor satu adalah Bugis street.  Memang daerahnya sempit dan hampir selalu penuh sesak dengan turis, tapi banyak toko-toko kecil yang menjual barang-barang menarik dengan harga oke.  Kalau kita telusuri Bugis street itu, melewati toko-toko yang menjual jam murah dan suvenir murahan di jalan utama, masuk ke gang-gang kecil yang bercabang-cabang, ada banyak toko-toko kecil yang menjual barang-barang fashion seperti baju, topi, tas, sepatu dan aksesoris lain.  Sepertinya anak-anak muda S'pore juga biasa belanja di sana.  Jangan tanya aku apa barang-barang yang dijual di sana mengikuti mode atau ketinggalan jaman, aku bukan orang yang modis.  Tapi kalau melihat dari pembelinya yang kebanyakan juga anak-anak muda lokal...  Kalau di sini mungkin mirip ITC Mangga Dua lantai 4 dan 5 yang pusat butik.  Di Bugis Street toko-toko fashion itu juga banyak yang interiornya dihias sesuai aliran gaya barang yang dijualnya.  Maunya sih aku potret beberapa toko sebagai contoh, tapi karena pengunjung lumayan berdesak-desakkan ditambah waktu mencoba memotret satu toko, SPGnya (yang berdandan gaya romantis pake dress renda-renda, rambut hitam lurus dan hiasan kepala bunga-bunga dan pita) langsung bilang, "Can't take pictures!".
Terus cari buku dan alat crafts di daerah Bras Basah.  Banyak buku yang dijual $1 saja, malah kalau ga salah ada juga yang lebih murah kalau beli lebih dari satu.  Tapi sekilas aku liat buku-buku seharga itu adalah novel / fiksi (sepertinya buku bekas tapi kondisinya masih bagus).  Kalau aku bukan turis yang mesti mikirin gimana cara bawanya pulang balik ke Jakarta (ditambah barang-barang belanjaan lain), pasti aku juga sudah beli beberapa buku di situ.  Yang paling oke adalah toko Art & Friend yang menjual barang dan bahan untuk art & crafts.  Mau cari bahan atau alat melukis ada.  Bahan untuk membuat dan mencetak sabun, ada.  Bahan untuk membuat dan mencetak lilin, ada.  Segala macam kertas / art paper, ada.  Bahan untuk clay juga ada tapi ga terlalu lengkap (menurutku loohhh).  Aduh, berada di toko seperti itu bikin aku agak histeris! Harus menguatkan iman untuk tidak kalap belanja ngabisin duit yang cuma segitu-gitunya didompet. Beberapa jam lewat ga terasa.  Hampir semua sudut dan lorong toko itu sudah dijelajahi.  Tokonya lumayan gede (8000 square feet, berapa tuh kalau meter persegi?), tapi yang di pusatnya di Takashimaya di Orchard lebih guede lagi (10.000 square feet!).  Barang-barang dilihat, dipegang, dipikir-pikir, "Bagus nih tapi apa aku betul-betul perlu barang seperti ini?".  Kepala sibuk menghitung, berapa harganya kalau dalam Rupiah.  Hah, repot!  Sambil di dalam hati berkali-kali berkata, kenapa di Jakarta ga ada toko alat dan bahan untuk arts & crafts selengkap ini? Kenapa?!

Tidak ada komentar: