14 Agustus, 2009

Copet!

Iya, aku lagi apes nih! Tadi pagi dompet dan handphone dicopet di dalam angkot. Ni aku cerita biar yang pada baca bisa tau ada modus operandi baru pencopet di angkutan umum. Ceritanya gini, aku naik angkot dan duduk di belakang kursi supir. Ga lama kemudian ada cowo naik dan duduk di bangku kayu pas di depanku (si orang yg duduk di bangku itu jadi duduk membelakangi supir, menghadap ke belakang angkot). Terus ga lama ada lagi cowo yg naik dan duduk persis di sebelah kiri, jadi aku duduk terpojok di antara dua orang itu. Belum lama angkot jalan, cowo di sebelah kiri yang naik paling belakangan tiba-tiba bergelagat ngga enak. Dia bergaya mau muntah gitu. Sambil tutup mulut dan mengeluarkan bunyi-bunyi hooeekk..hoeekk!. Celakanya tu cowo bergaya mau muntah gitu sambil menghadap ke aku, pura-puranya mau mengeluarkan muntahnya lewat jendela angkot yang emang terbuka di belakang kepalaku. Aku jadi panik dong! Takut kena 'bom' dari dia (padahal aku paling ogah ama jorok-jorok begitu!). Aku mau pindah ke kursi lain tapi ga bisa karena jalanku ditutup oleh kaki si orang yang pura-pura itu dan kaki cowo yang duduk di bangku kayu di depanku. Pilihan berikutnya ya duduk merapat ke orang yang duduk di depanku, di atas bangku kayu yang menghadap ke penumpang. Aku nunduk-nunduk (mana bisa berdiri tegak di dalam angkot?) dan nempel sama orang itu, berusaha menghindari apapun yang barangkali bakal keluar dari si orang yang lagi hoeekk-hoeekk. Terus, tiba-tiba si orang yang mau 'mun' itu minta turun dari angkot. Seingatku tu orang pake sepatu putih dari kulit imitasi, pake jeans, pake kaos (lupa warnanya) dan pake topi pet putih. Aku ingat ciri-ciri sepatunya karena waktu dia naik ke angkot, yang aku lihat adalah sepatunya dan aku mikir, "Hiyaa... sepatu oom-oom playboy! Norak banget!" Ga tau kenapa, di kepalaku dari dulu kalau liat sepatu dari kulit warna putih yang modelnya resmi gitu (apalagi sepatu orang ini dari kulit imitasi yg kaku, modelnya yang ujungnya lancip menghadap ke atas kayak selopnya Aladdin) asumsinya langsung : sepatu oom-oom pleiboi. Nah keadaan orang itu ber hoeek-hoeek, aku duduk mepet banget ke orang di depanku kira-kira dua-tiga menit lamanya. Eniwei, setelah orang itu turun dari angkot, aku akhirnya pindah duduk ke kursi yang di samping pintu. Si cowo yang tadi aku tempel itu keliatan meringis-ringis. Aku merasa bersalah, aku kira dia kesakitan mungkin karena tanpa sengaja dia kejepit pintu atau apa gara-gara aku. So, aku minta maaf deh ama dia, aku bilang, "Maaf ya mas. Sakit ya? Maaf ya". Si orang itu nyengir dan bilang, ga pa-pa. Terus dia keliatan membuka tas di pangkuannya (belakangan aku baru ingat, ukuran tasnya lumayan gede). Aku saat itu mikir, wah dia takut barangnya hilang mungkin dia takut aku tadi merogoh-rogoh tasnya. Padahal itu orang kemungkinan besar lagi ngecek apakah dia sudah berhasil mencopet barang-barangku! Terus ga lama kemudian giliran cowo itu yang turun.
Aku baru sadar bahwa aku sudah jadi korban kecopetan setelah aku turun di tempat tujuan. Sudah agak lama di 'darat' aku buka tas mau ambil ktp dari dompet. Tas itu dalam keadaan tertutup kancing tariknya. Ga ada tanda-tanda bekas dicopet. Tasku itu tas selempang yang selalu aku taruh di depan. Aku biasanya cukup waspada kok menjaga keselamatan barang bawaan. Aku agak heran waktu ga liat dompetku di dalam tas. Beberapa saat kemudian, setelah melihat bahwa ternyata handphoneku juga sudah raib, aku baru sadar bahwa aku sudah kecopetan.
Waktu aku akhirnya melapor kehilangan di kantor polisi, si bapak polisi yang membuat surat bertanya, "Hilangnya di mana?" Aku jawab, "Di angkot." Eh, polisinya langsung meneruskan, "Copetnya pura-pura mau muntah?". Jadi ternyata mencopet dengan gaya seperti itu sudah terjadi beberapa kali di daerah sekitar perumahan Bintaro akhir-akhir ini. Menurut polisi pencopetnya terdiri dari beberapa orang, minimal dua orang yaitu si 'aktor' yang pura-pura sakit dan temannya yang ngerjain orang yang jadi targetnya. Mungkin juga ada lebih dari dua. Aku baru ingat bahwa waktu si orang yang pura-pura sakit itu baru memulai aktingnya, ada orang lagi laki-laki yang duduk di kursi dekat pintu yang ngomong ke aku, "Pindah duduknya mbak!". Mungkin orang itu bagian dari komplotan mereka juga. Kata polisi, pernah ada saksi yang melihat pencopet seperti itu pergi naik mobil Avanza hitam yang sudah parkir di pinggir jalan menunggu mereka. Jadi begitu mereka turun dari angkot, mereka langsung naik ke mobil mereka sendiri dan kabur.
Uang dan handphoneku hilang deh! Berikut dengan berbagai kartu identitas, kartu kredit dan kartu ATM. Yang bikin aku paling sedih, di dalam dompet yang hilang itu ada dua foto almarhum Bapak waktu masih muda, waktu masih mahasiswa di rumah kostnya. Aku ga punya copy nya. Waktu sadar sudah kehilangan foto-foto itu, baru deh aku nangis (sudah di rumah, sudah selesai telpon sana-sini untuk memblokir kartu-kartu perbankan). Aku mikir si cowo yang aku minta maaf itu... Kebayang, aku minta maaf karena sudah ga sopan ama dia (hampir menyeruduk dia karena takut kena unidentified flying object alias ufo dari si mabok bersepatu pleiboi). Padahal kenyataannya dia malah sudah bikin aku sial, mencopet dompet dan handphone dari tasku dengan menyalahgunakan kepanikanku.
No
Jadi kalau ada orang berlagak mau muntah di samping Anda di dalam angkutan umum, apa yang bisa/harus Anda lakukan?
Pilihan satu : melotot balik ke orang ybs dan bilang, "Kamu mau nyopet?!!!"
Pilihan dua : pegang atau peluk erat-erat tas dan barang berharga lalu berusaha sedemikian rupa utk menjauh atau keluar sekalian dari angkot tsb. Walaupun dalam prosesnya Anda melangkahi atau menendang orang yang duduk di depan Anda (yang kemungkinan besar adalah anggota geng pencopet yang sedang bersiap-siap membuka tas Anda)
Pilihan ketiga : gabungan dari pilihan satu dan pilihan dua di atas.
Sad
p.s.: tapi jangan minta pertanggung jawaban ke Sita kalau ternyata orang itu benar-benar lagi sakit dan benar-benar hoekkh! di dalam angkutan umum, persis di dekat Anda. That's another nightmare that deserves it's own posting in a blog.