08 Oktober, 2008




Film Laskar Pelangi?


B A G U S

Antri Karcis "Laskar Pelangi"

Susahnya mau nonton "Laskar Pelangi". Beli karcisnya aja harus pake perjuangan '45. Aku nebeng kakakku yg dengan hari ini sudah antri beli karcis film ini yang ke-3 kalinya. Usaha yang ke-2 (kemarin) gagal karena nggak tahan bau badan orang di depannya waktu antri di depan loket (which gives me an idea , jangan mandi dan jangan pake deodorant kalau mau antri, siapa tau bau badan yang dihasilkan bikin persaingan berkurang. Enam orang memundurkan diri, lima orang lainnya pingsan!). Faint
Sampai di depan pintu Theater 21 sekitar jam 10.30, orang-orang sudah mulai ngumpul di depan pintu kaca yg masih ditutup. Tulisan di pintu: "Buka jam 11.30". Kakakku mulai ikutan menunggu di situ, berdiri dengan manisnya. Aku duduk di tangga, ga jauh dari pintu masuk 21. Dan orang-orang yang datang untuk antri beli tiket semakin lama semakin banyak. Eskalator di depan 21 nggak berhenti membawa tambahan orang dari lantai bawah, lagi, lagi dan lagi... Kerumunan orang di depan pintu masuk Theater 21 makin banyak sampai akhirnya berdesak-desakkan dan berhimpitan. Aku tengok kakakku, masih berdiri di tempatnya semula, sudah buka kipasnya karena kegerahan di Plaza yang ber-ac dan mukanya sudah tidak manis lagi. Aku bilang, "Ayo pulang aja. Kita coba lain kali lagi". Tapi kakakku tetap mau coba, karena anak-anaknya ingin sekali nonton film itu. Anaknya yang sulung, cowok, lagi on the way jadi biar dia yang nanti gantian antri beli tiketnya. Oh, oke deh... Jadi aku, si peserta penggembira, pergi lagi ke pojok tangga tempat singgasana. Bukannya ikutan antri, atau gantian antri... I just thought, we can try another day when it's not that crowded anymore. Aku paling nggak suka berdesak-desakkan. Apalagi kalau nggak tertib, orang saling selak dan pakai hukum rimba. Nggak deh, kalau bukan untuk kebutuhan primer seperti antri beras atau antri minyak tanah, mendingan mengalah dan keluar dari desakkan orang-orang, monggo ibu-bapak... silakan saling sikut dan saling pelotot sesuka hati, saya nggak mau ikutan. Saya mah pencinta damai, beneran deh! Peace man... Hippie
Waktu akhirnya pintu Theater 21 itu dibuka, orang-orang langsung mendesak masuk. Sprint ke depan loket karcis dan harus antri lagi untuk beli. Tunggu lagi... at last my sister emerged victoriously from the dark room of the Theater. Mukanya kembali manis, walaupun rambutnya sudah agak berantakan dan gerakan tangannya mengipasi diri semakin cepat. Di dalam tadi keadaannya sumpek sekali, sirkulasi udara kurang baik karena isinya orang melulu (iya lah, masak isinya sapi?). Hasilnya mengantri dan berdesak-desakkan selama kurang lebih satu jam, "Dapat tiket yang jam 19.30!" Horee!!! Jump For Joy

p.s.: Siapa bilang orang Indonesia nggak suka nonton film buatan negeri sendiri?