03 Juni, 2008

Clay Tepung Jamuran #2

Weleh-weleh...baru buka blog sudah ada comment dari din-din tentang jamur pada clay tepung. Suka deh...akhirnya blog aku nggak sepi-sepi amat. Ada reaksi dari orang lain. Jadi nggak seperti ngomong sendiri gitu Big Smile

Supaya lebih mudah untuk dibaca sama yang lain yang mungkin berminat (dan mungkin ada yang baca), aku copy aja comment-nya di sini:

"...kalo din pribadi, ga sreg kalo bikin clay dari tepung makanan, karena resiko berjamur itu pasti ada, kan malu yah kalo berjamur saat udah dibeli orang, bisa2 ga laku dah dagangan kita. Atau misalnya kita kasih hadiah ke temen, tau2 jamuran wedeewww maluuu dah...Oh ya mungkin ada temen2 yang minat ama tepung clay asli korea, Din masih ada stocknya, harganya RP.25 rb, sewadah Aqua gelas kalo ga salah, ga pernah nimbang, udah packing! Tinggal dicampur dengan lem putih! Clay ga bakal jamuran dah, soalnya itu tepungnya asli clay bukan bahan makanan spt tertera di buku2 yang saat ini banyak beredar!..."

Tuh, ada mainan baru... clay tepung garansi anti jamur. Mungkin ada yang berminat? Yang berminat hubungi saja Din-din. Kalau harganya 25ribu sebesar gelas Aqua gelas, berarti harganya apa lebih murah, sama atau lebih mahal daripada polymerclay seperti merk Fimo, Sculpey dll itu? Buat aku pribadi...sekarang masih dalam tahap belajar, kalau pun mau dijual gak tahu kemana jualnya dan apa ada yang mau beli? Kalau nanti aku mau jualan (dan ada yang mau beli) memang lebih baik dibuat dari bahan-bahan yang paten, anti jamur seperti tepung clay punya Din-din, paper clay atau sekalian polymer clay (yang nggak musuhan sama air alias waterproof).

Clay Tepung Jamuran

Waduhh...sudah lama blog ini aku cuekkin... Gimana ya, aku males bikin posting yang nggak ada fotonya, rasanya nggak seru. Kalau bikin-bikin dari clay sih masih. Bikin kue yang lagi pensiun dulu sebentar, karena oven di rumah mogok kerja setelah berpuluh tahun mengabdikan diri.
Malam ini aku lagi terkena serangan insomnia, buka internet dan nengok blog, ternyataYayan punya masalah dengan jamur. Maaf ya jawabnya baru sekarang. Aku juga sering kena jamur... eh maksudnya clay buatanku yang kena jamur, bukan orangnya (kalaupun iya orangnya yang jamuran, nggak ada yang tau 'kan? he he he). Penampilan clay jadi seperti agak berbulu, kalau permukaannya dipegang seperti ada tepung-tepung atau debunya (atau mungkin memang beneran debu?) Happy , warna clay jadi kusam jelek. Betul nggak? Kemungkinannya ada beberapa, aku juga belajar dari pengalaman yang belum lama, mudah-mudahan bisa membantu.

Clay jamuran mungkin karena pemberian pengawet makanan dalam adonan clay kurang banyak. Sayangnya aku nggak pernah mengukur berapa gram pengawet makanan yang dimasukkan ke dalam clay (soalnya di dalam buku-buku para pakar juga tidak diberi tahu ukuran gram persisnya). Tapi kira-kira aja, kalau memakai ukuran 1 cup untuk masing-masing jenis tepung (ukuran cup yang biasa dipakai dalam resep Amerika, biasa dijual dalam bentuk 1 set, ada 1 cup, 1 sendok makan, 1 sendok teh, 1/2 sendok teh dst) aku biasanya menambahkan pengawet makanan nggak kurang dari 1 sendok makan. Lebih sedikit menurut aku juga nggak apa-apa, toh clay ini pada akhirnya bukan untuk dimakan, iya nggak?

Kemungkinan kedua, mungkin clay belum benar-benar kering sudah disimpan di dalam tempat tertutup. Waktu untuk pengeringan ini nggak bisa seragam (tergantung tipis-tebalnya clay dan suhu udara). Clay yang tebal tentu butuh waktu pengeringan yang lebih lama. Tempat tertutup di sini bisa berupa lemari pajangan yang ada pintu dari kaca, kotak mika atau kantong plastik. Yang terakhir ini yang aku pakai untuk menyimpan clay supaya tidak kena debu. Rupanya, tempelan lemari es atau magnet dari clay yang aku simpan di dalam kantong plastik belum benar-benar kering. Yang kering ternyata baru permukaan luarnya saja, lapisan dalam masih lembab. Hasilnya hampir semua tempelan lemari es itu berjamur. Terpaksa aku keluarkan lagi dari kantongnya, dijemur ulang sampai benar-benar kering.
Elise dari claygeek.wordpress.com pernah memberi saran dijemur di depan kipas angin supaya clay lebih cepat kering.

Kemungkinan ketiga, keadaan negara kita yang tropis dan lembab sehingga pada dasarnya jamur memang lebih gampang berkembang biak. Clay yang dilapisi vernis setelah kering benar (misalnya pakai cat pylox bening atau cat kuku bening) lebih tahan terhadap serangan jamur dibandingkan clay yang polos. Tapi, ada tapinya... Penampilan clay jadi mengilap (bahasa indonesia yang betul mengilap atau mengkilap atau mengkilat ya?) Ada yang lebih suka clay yang matte, tidak mengilap, jadi tidak pakai vernis. Ini sih tergantung selera.

Jangan lupa juga untuk cuci tangan (minimal tangan jangan kotor berdebu) sebelum memegang adonan clay.

Resepnya baru ada empat. Mudah-mudahan bisa mencegah masalah jamur pada clay tepung. Lain kali kalau terpikir resep lain aku tambahkan lagi di sini. Atau mungkin ada yang punya resep lain?