29 Agustus, 2008

Pesanan Miniatur Clay Dalam Bingkai Foto



Ini adalah bingkai foto dengan hiasan boneka mini dari clay tepung yang aku buat untuk pesanan (yang aku ceritakan di posting sebelumnya). Pemesannya bertamu ke blognyasita, lihat-lihat kreasi clay tepungku dan mengirim email bertanya apakah aku bisa membuatkan miniatur untuk hadiah ulangtahun temannya. Akhirnya, singkat cerita, aku membuatkan bingkai foto berhiaskan boneka mini yang aku buat (sebisanya) mirip orang yang akan menerima kado tersebut. Untuk bingkai tebalnya, aku terpaksa membeli bingkai yang sudah jadi (nggak ada waktu untuk memesan khusus dari tukang bingkai). Berhubung yang ada di toko cuma satu warna (dan satu ukuran) yaitu warna pink gonjreng (warna gue banget!). Nggak mungkin seorang cowo pendaki gunung dikasih bingkai warna pink! Terpaksa si bingkai dari toko di cat ulang di rumah. Sebelumnya diampelas dulu mengurangi cat aslinya yang feminin banget itu. Mengecatnya berkali-kali, dua kali bahkan di beberapa bagian harus sampai tiga kali. Untung banget matahari waktu itu lagi panas-panasnya, jadi cat bisa kering dalam waktu satu hari.

Karena yang akan berulangtahun adalah seorang pendaki gunung, aku buatkan boneka pendaki gunung lengkap dengan ranselnya. Ada gunungnya, yang aku warnai dengan cat air. Paling seru waktu bikin orang dan ransel. Aku berkali-kali harus mengamati foto si calon penerima kado (yang dikirim lewat email) untuk membuat boneka miniaturnya. Memang aku nggak bisa bikin muka yang mirip dengan aslinya, tapi paling tidak di detail lain aku berusaha supaya agak mirip fotonya. Seperti celana, harus warna hijau militer dan dengan saku besar di samping. Pake syal seperti di foto (untung di rumah ada sisa bahan felt tipis warna biru muda). Bajunya adalah baju hangat (namanya juga pendaki gunung, nggak mungkin mendaki gunung tinggi hanya pakai kemeja katun berlengan pendek Goofy ) yang warnanya biru. Berhubung ingin bikin yang realis, baju atasan boneka aku buat dari kain. Idealnya sih bahan kaus warna biru tua yang agak tebal, tapi di rumah adanya bahan jeans. Akhirnya bahan jeans itu saja yang aku jadikan baju atasan boneka pendaki gunung. Di bagian dadanya aku lukis motif yang ada di baju kaus yang dikenakan di dalam foto. Aku pikir, mungkin itu lambang kelompok pencinta alamnya, jadi semacam kaus seragam kelompok, so pasti punya arti penting bagi pemiliknya. Nggak mirip sama sekali antara lukisan di baju boneka dengan gambar di baju benerannya, tapi itu yang maksimal yang bisa aku buat. Salahnya, aku melukis gambar itu setelah bajunya dipakaikan ke boneka clay, bukan sebelumnya (jadi permukaan bahan bisa rata). Pakai kuas paling kecil yang aku punya, baru beli waktu ke Mangga Dua terakhir kali. Kuas merek Lyra ukuran 0. Mungkin ini ukuran paling kecil ya? (di bawah angka 0 ada angka apa? Minus satu dst?)


Eniwei, yang seru lagi waktu membuat ransel gunungnya. Harus warna biru, panjang dan ramping (ini ransel gunung, bukan ransel anak SD). Berusaha membuat ransel yang panjang, besar dan ramping...akhirnya supaya lebih ada kesan "ini ransel pendaki gunung", di atasnya aku tambahkan sleeping bag yang sudah digulung rapi. Talinya pakai tali dari waxed linen warna hitam, tadinya ransel ini mau dipakaikan di punggung boneka tapi bingkai nggak bisa ditutup (ketebalan bingkai kurang). Lagipula kalau dipakaikan di punggung boneka, ranselnya nggak kelihatan dong... Boneka pendaki ini semula pakai topi (seperti di dalam foto asli orangnya), tetapi lagi-lagi karena bingkainya kurang tebal akhirnya si topi tidak jadi dipakai. Kalau bonekanya tetap pakai topi bingkainya nggak bisa ditutup. Sayang memang, tapi apa boleh buat. Semula di dalam bingkai mau aku tambahkan akar wangi. Ceritanya sebagai tanaman rumput di puncak gunung. Tapi kalau pakai akar wangi kesannya miniatur jadi kotor... Jadi akar wangi dibatalkan. O ya, rencana awal bingkainya sehabis dicat dasar ulang mau aku lukis dengan angka usianya the birthday boy. Maunya warna-warni. Tapi setelah dipikir-pikir, nanti hasil akhirnya malahan terlalu rame! Lagipula, yang mau ulang tahun kan bukan anak kecil.

Sesudah dibungkus rapi pakai kotak dari karton dengan penanganan ekstra supaya tahan benturan, dibawalah si bingkai ini ke TIKI untuk dikirim ke Bandung. Sama orang TIKI ditanyain, kiriman ini isinya apa? Aku jawab bingkai, hati-hati ya jangan dibanting atau ditumpuk karena bisa pecah. TIKI bilang, iya nanti dikasih stiker 'Barang Pecah'....tapi...nggak bisa garansi. Lha, gimana nggak bisa garansi? Very Confused Iya, nggak bisa garansi barangnya nggak bakal pecah di jalan. Karena barang dikirim bareng barang-barang lain. Aku melirik ke tumpukan kardus gede-gede yang sudah bertumpuk di kantor agen TIKI itu. Ho oh...tandingannya kardus indomie yang isinya bisa-bisa baja beton! Nervous Sementara paket kirimanku, si bingkai berisi boneka clay hanya sepersekian besarnya dibandingkan kardus indomie. Buat apa pakai ditempelin stiker 'Barang Pecah' kalau nggak bisa kasih garansi barang pecah itu tidak akan pecah di jalan? Tapi, apa boleh buat? Akhirnya aku minta paketku dimasukkan ke dalam kardus ekstra, kirim ke Bandung express seperti yang diminta pemesan.



Bingkai masih dalam proses. Di atas bingkai, kuas baru merek Lyra yang aku ceritakan. Ujungnya memang kecil, runcing, enak untuk dipakai melukis gambar yang kecil-kecil. Nggak mahal lagi! Di atas ransel itu topi si boneka yang akhirnya nggak jadi dipakai karena kalau si boneka pakai topi bingkai jadi nggak bisa ditutup. Foto dipasang di tengah-tengah antara gunung dan boneka.

Tidak ada komentar: