25 Juni, 2008




Mesin jahit Hello Kitty ini lucu banget ya! Merk Janome dari Jepang, jadi ini mesin jahit betulan bukan mainan. Bisa untuk menjahit baju dsb. Ada beberapa pilihan jenis jahitan juga. Wuihh...aku mau deh punya mesin jahit Hello Kitty seperti ini. Tapi mestinya ada yang warnanya pink atau merah ya? Hello Kitty 'kan identik dengan dua warna itu. Sepertinya di Indonesia nggak ada yang jual Janome Hello Kitty ini Teary

24 Juni, 2008

Miniatur #4




Miniatur no.4

Yang ini hanya tentang rumah. Rumah dari clay tepung yang kemudian dicat. Begitu juga pohon cemara, itu dibentuk pakai bantuan cetakan kue kering. Dari semua miniature yg sudah aku bikin, ini yg paling gampang. Giling adonan clay tepung, cetak atau potong mengikuti bentuk yang diinginkan. Sesudah benar-benar kering tinggal dicat pakai cat akrilik atau cat poster. Setelah itu disemprot pakai cat pilox bening. Voila! Eyebrow

23 Juni, 2008

Blogging Fever

Iya nii...sepertinya aku terjangkit demam blogging.  Hobby ngutak-ngatik blog, tambahin ini-itu. Penemuan terakhir bikin slide di slide.com.  Sudah jadi nih slidenya, sudah di embed (apa ya bahasa indonesia untuk kata ini?) ke blog.  Terus liat-liat di slide.com ternyata ada frame yang lebih lucu dari yang aku pilih sebelumnya.  Hayo deh diganti lagi.  Download en upload. Hasil akhirnya seperti di bawah.  Itu juga sudah pakai gonta-ganti tempat.  Tadinya slide dipasang di atas, di bawah judul blog, tapi kok kelihatan bentrok sama glitter text 'welcome'.  Akhirnya si neng slide dipindah ke bawah kotak posts.  Dipilih frame yang warna pastel dan ada bunganya.

Nah, pengalaman kedua adalah bikin blog khusus untuk jualan.  Kakakku yang tinggal di Singapura bawa barang-barang IKEA dari sana.  Mau dijual di toko di sini.  Aku mau coba jualan lewat internet.  Kata kakakku orang kita nggak cocok dengan sistem jualan seperti itu.  Tapi, apa salahnya mencoba, iya nggak?  Semua bisa dipelajari asal ada kemauan. Hasilnya, jadi deh blog khusus untuk jualan, namanya Tuqu Tuqu dari kata tuku alias beli dalam bahasa Jawa.

Ceritanya dulu aku dan kakakku (yang lain, bukan yang sekarang tinggal di Singapura tadi) pernah buka toko dengan nama yang sama.  Barang jualannya pernak-pernik buatan sendiri dan juga barang-barang lucu-lucu dari Jepang.  Beberapa barang dagangan kita sempat masuk di majalah Cosmo Girl.  Terus akhirnya tokoku itu terpaksa ditutup karena satu dan lain hal. Mungkin hal utamanya karena kita berdua jadi nggak fokus mau jualan apa.  Semua barang yang lucu-lucu kita beli dan kita tawarkan di toko.  Hasilnya, uang untuk toko jadi habis tapi pemasukan berkurang.  So, in the end we had to close the shop. Lagipula, kalau dipikir-pikir mengelola toko seperti itu lama-lama nggak cocok untukku.  Waktuku jadi habis di toko, ngurusin segala tetek bengek sehari-hari. Tujuan utama buka toko untuk jualan barang-barang buatan sendiri jadi terlupakan.  Aku nggak ada waktu untuk membuat barang-barang (waktu itu tas lukis, tas handmade lain dan aksesoris seperti kalung dll).  

Jadi sekarang dicoba buka toko lagi tapi kali ini virtual, jualan lewat internet.  Nggak usah keluar uang untuk sewa tempat, nggak usah mengupah tenaga SPG dan banyak waktu untuk mengurus yang lain.

Jadi doa'in ya...mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar.

22 Juni, 2008

Sleeping Beauty


Miniatur no.3

Nggak begitu puas dengan hasilnya. Yang ini namanya "semangat penuh - ide kurang". Karena ruang bingkainya kecil, aku nggak bisa bikin banyak barang (belum bisa bikin ukuran keciiilllllll...banget). Jadi selain tempat tidur, aku hanya bisa nambahin teddy bear dan tirai.
Bantal dari bahan bulu sintetis warna pink, sisa dari menjahit tas. Selimut juga sama, sisa dari menjahit tas yang dilapisi bahan felt pink. Supaya lebih manis dan lebih kelihatan seperti selimut, bagian pinggir felt pink aku jahit tusuk feston (kalau ga salah begini ni nama jenis jahitannya). O iya, background dari bahan bulu sintetis pink sama seperti bantalnya. (I've told you, this girl loves pinkCover Up

Sesudah yang ini masih ada miniatur no.4, ukuran masih sama. Habis itu belum beli bingkai tebal lagi... Mau cari yang punya ukuran lebih besar supaya bisa lebih bebas. Kalau bisa lebih tebal juga. Belum sempat tanya-tanya pembuat bingkai, kira-kira berapa ya kalau pesan bingkai tebal seperti ini? Eh jadi ingat! Belum lama ada jaringan toko Valu$ yang menjual barang-barang rata-rata seharga Rp5000. Di situ banyak dijual bingkai berbagai jenis, warna dan ukuran dengan harga miring. Sekarang jaringan Valu$ itu sudah nggak ada lagi, diganti jadi sesuatu yang mirip tapi barang-barangnya nggak sebagus Valu$ (menurutku, terutama utk bingkai dan peralatan crafts/ kriya lain). Sekarang, setelah punya hobi clay tepung makin terasa kehilangan si Valu$.

Ukuran bidang 6,7 x 6,7 cm (ukuran bingkai keseluruhan 9,3 x 9,3 cm)

20 Juni, 2008

Tirai Daur Ulang Kemasan Plastik




(foto-foto dari http://sakurasnow.wordpress.com)


Aku lihat ini di situs http://sakurasnow.wordpress.com waktu lagi nge-Google cari illustrasi bunga sakura. Menurut Suzanne (thank you!), si penulis blog, foto ini diambil di Capetown, Afrika Selatan. Di sana ada sebuah galeri yang membuat tirai / hiasan gantung dari botol dan berbagai kemasan plastik lain. Warna-warni! Bagus dan berguna ya? Selain bagian badan botol (ada juga botol plastik transparan seperti botol air minum mineral) dipakai juga tutup botol plastik. Semuanya diberi lubang lalu dironce pakai tali. Dari foto kelihatannya pakai tali tambang plastik biasa. Lalu disusun deh menjadi tirai.

Ide bagus dan artistik untuk daur ulang sampah plastik yang menumpuk. Mmm...kalau aku mau buat juga seperti ini, di rumah cuma ada botol plastik bekas Aqua, bekas minyak goreng (dua-duanya plastik transparan, belum ada yang berwarna), botol bekas bubuk cuci piring Vim (warnanya putih ajah!), botol bekas pelembut pakaian (nah ini baru ada warna-warninya! Ada yg pink, biru muda, ungu, oranye). Botol bekas apalagi yang ada di rumahku? Bekas obat batuk (OBH) berhubung sekarang lagi musim batuk-pilek di Jakarta Blowing Nose tapi itu warnanya hanya hitam gelap begitu aja. Dan butuh banyak sekali botol bekas warna-warni untuk bisa membuat satu tirai bagus seperti di gambar. Mungkin harus minta supply dari pemulung.

Anyway, it's a good recycling idea dan aku ingin info aja ke kalian semua yang barangkali membaca blog ini. Boleh dong bagi-bagi ceritanya kalau ada yang membuat? Terimakasih banyak sebelumnya lhoo...

19 Juni, 2008

My Favorite



Ini miniatur favorit Sita (dari 4 yang aku belajar bikin selama ini)

Pertama, warna bingkainya yang pink (agak klise memang, tapi cewek satu ini 'agak' suka pink)

Kedua, lemari yang bisa diisi macam-macam benda jadi bikin aku asyik mikirin apa...ya yang kira-kira bisa aku bikin untuk pengisi lemari mungil ini? Akhirnya aku bikin sepasang cangkir (kelihatan nggak kalau salah satu cangkirnya ada motif emasnya? Big Smile ). Potong-potong kain perca dan dilipat-lipat, pura-puranya ini tumpukan serbet.

Ketiga, teddy bear mini favoritku akhirnya dapat rumahnya di rak paling atas lemari. Ceritanya si teddy ini disimpan di sini sama si Bunda yang baru selesai bersih-bersih di dapur.

Keempat, ada si kucing belang hitam-putih yang lagi tiduran di bawah tirai merah. Matanya merem-melek karena perutnya sudah kenyang. Kalau bingkainya lebih besar (yang ini 9,3x9,3cm) aku tadinya mau bikin mangkok tempat susu si meong (masih ada lain kali...dan pasti nanti ada doggie!)

I like it so much, jadinya foto miniatur ini aku jadikan penghias judul blog. Menggantikan bunga-bunga clay yang sudah habis masa tayangnya.

p.s. akhirnya miniatur ini aku kasih ke seorang anak perempuan yang senang kucing. Kata dia, kucing kesayangannya di rumah mirip sekali dengan kucing mini dari clay ini. Who can say no to a little girl?

17 Juni, 2008

Miniatur



Beberapa hari ini aku sibuk! Bersih-bersih tempat yang mau dijadikan toko. Joinan dengan kakak ipar yang mau supply barang-barangnya.
Sebelumnya, aku masih sempat bikin beberapa barang dari clay. Seperti miniatur di bawah ini. Ceritanya, suatu hari secara nggak sengaja aku lihat ada bingkai kecil tebal yang cocok untuk membingkai miniatur dari clay. Sudah lama ingin coba buat miniatur seperti ini... Kayaknya lucu, seperti membuat dunia mini di balik kaca. Yang ini semua barangnya aku buat sendiri (kecuali bunga dari kertas, itu cuma di cat ulang pakai cat air).  Selain dari clay tepung pelengkapnya dari stik es, kain-kain perca yang ada di rumah, bunga kertas dan lain-lain. Kalau mau lebih mudah dan praktis, nggak usah bikin semua dari nol seperti aku. Di pasaran ada dijual barang-barang miniatur untuk pengisi rumah boneka atau untuk dibingkai seperti ini.
Anyway, si boneka dari clay yang sudah agak lama aku buat akhirnya mendapat rumah di bingkai ini... Aku kepikiran mau coba jual miniatur begini nih. Kira-kira berapa ya harga jualnya? Ada yang bisa kasih saran nggak? Terimakasih sebelumnya lho kalau ada yg mau kasih saran Goofy

p.s.   menurut kakakku pajangan miniatur ini agak sedikit 'kosong' alias kurang penuh alias kurang oke... Selera orang beda-beda ya?  Yang pasti, karena komentar itu aku jadi berusaha lebih keras untuk bisa bikin pajangan miniatur yang lebih 'penuh'.  Tapi susah juga kalau ukuran bingkainya hanya 9,3 x 9,3 cm

09 Juni, 2008


Buat Fun dan lain-lain, clay tepung yang ada di sini nggak bisa dimakan. Karena di dalamnya ada lem putih atau lem PVA dan pengawet makanan bubuk dalam jumlah di atas normal (supaya tidak bulukan atau jamuran). Kalau hiasan-hiasan di atas cupcake atau kue yang aku bikin itu terbuat dari fondant, aman untuk dikonsumsi.

Clay tepung ini bahan dasarnya kita buat sendiri, resepnya lihat saja di posting yang punya label modeling clay buatan sendiri. Kalau mau baca beberapa tips clay tepung, seperti clay terlalu lengket atau terlalu keras, ada juga di posting dengan label sama. Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa aku jatuh hati dengan clay tepung. Bahan-bahannya sederhana, gampang dicari. Untuk beli tiga jenis tepung yang diperlukan aku tinggal jalan sebentar ke supermarket, atau belinya barengan waktu lagi belanja kebutuhan sehari-hari. Beli lem putih bisa di toko buku, di toko material atau di supermarket juga ada. Bahan clay tepung yang mungkin bisa dibilang agak susah dicari hanya pengawet makanan bubuk. Kadang-kadang hanya tersedia di toko kimia yang jumlahnya nggak begitu banyak. Tapi pengawet makanan ini juga dijual di toko khusus bahan-bahan membuat kue dan roti seperti toko-toko Bogasari. Kadang-kadang juga tersedia di supermarket, karena perusahaan Koepoe-koepoe (yang menjual pewarna makanan, baking powder, baking soda dan lain-lain) juga menjual pengawet makanan (kalau nggak salah pengawetnya jenis Borax).

Selain clay tepung, untuk membuat barang-barang seperti buatanku atau yang jauh lebih bagus lagi, ada modeling clay yang lain seperti paperclay, polymer clay (merk Fimo atau Sculpey sebagai contohnya saja), jumping clay, resin clay dan masih banyak yang lain. Oh ya, jangan lupa modeling clay yang biasa kita sebut lilin, mainan anak-anak dari jaman baheula sampai sekarang (sekarang nama kerennya play doh...bener gak nulisnya?). Tapi hasil dari clay lilin ini gak bisa mengeras, jadi nggak bisa buat pajangan atau yang lainnya.

Dan seperti yang pernah aku tulis dulu, clay tepung ini ideal untuk newbie atau pemula. Karena bahan-bahannya yang mudah didapat dan murah (satu point besar di jaman segala mahal seperti sekarang). Barang yang dihasilkan memang tidak tahan air dan umurnya tidak bisa terlalu lama (barang buatanku yang paling tua baru berumur satu tahunan, belum berjamur dan masih bagus sih, tapi ke depannya aku ngga tau bisa bertahan berapa lama lagi). Jadi kalau sudah jago, bisa bilang bye bye sama clay tepung dan beralih ke clay lain seperti polymer clay. Clay jenis terakhir ini untuk penyelesaiannya harus dibakar di oven (tidak bisa di microwave) sekian derajat Celsius selama sekian menit. Aku cuma bisa tulis sekian... dan sekian... karena aku sendiri belum pernah mencoba polymer clay, susah nemuin barang satu ini di pasaran (yang jelas nggak ada di toko buku dekat rumah atau di warung pinggir jalanEyebrow) dan harganya juga mahal. Barang import gettoow... Tapi polymer clay ini waterproof dan terbukti umurnya panjang. Jadi kalau misalnya buat kalung yang cantik dari polymer clay terus nggak sengaja (sengaja juga nggak apa-apa) kecuci. Nggak masalah, dijamin kalungnya nggak rusak. Nggak bakal jamuran juga... buatan Amrik gitu lho, nggak kenal panu atau kudis atau kurap Laugh.

Anyway, terimakasih buat mereka yang kasih komentar, info dan juga yang bertanya. Sita jadi kege-eran sudah ditanya-tanya... Mudah-mudahan jawaban aku bisa membantu, kalau belum mungkin artinya aku juga belum tahu jawabannya (ya iyalah... namanya sama-sama baru belajar!). Ciao ciao!


06 Juni, 2008

Buku Tentang Clay Tepung

Lupa... Setelah sekian bulan punya blog yang kebanyakan ngomong tentang clay tepung, aku malah belum pernah masukkin dua buku yang mengajari aku pertama kali tentang clay tepung.
Buku pertama yang aku punya adalah buku karya ibu Monica Harijati Hariboentoro ini,



aku beli setahun yang lalu (bulan Mei 2007) di Gramedia dekat rumah. Thanks to her (book) aku jadi bisa bermain lagi dengan clay yang bisa keras kalau kering dan bisa dipajang agak lama Bow Down
Dulu waktu masih kecil juga sudah pernah hobby main-main dengan clay dari roti putih. Dulu itu ceritanya mamaku belajar di tempat arisannya tentang membuat pajangan dari roti putih yang (kalau gak salah...maklum jadul banget) dicampur krim rambut (dulu merknya Brylcream, yang biasa dipake oom-oom dengan rambut berjambul dan mengkilat Goofy ), cat minyak dan pengawet makanan (borax).
Makanya waktu aku lihat buku pajangan lucu dari tepung kue ini aku tertarik dan beli, ceritanya teringat masa lalu.

Buku kedua karangan Indira ini.


Bukunya lebih tipis dari buku pertama, nggak berat di kantong jadi nggak terlalu mikir banyak untuk beli atau nggak beli. Bentuk orang-orang di buku punya Indira ini buat aku pribadi lebih lucu, warna-warnanya pastel, lucu-lucu. Ibu Monica jago banget membuat miniatur makanan dan miniatur lain yang bentuknya mirip seperti barang-barang aslinya. Aku sendiri rasanya nggak bisa deh bikin miniatur yang mirip dengan aslinya. Lebih suka dan lebih bisa bikin orang-orangan yang sederhana, binatang (seperti anjing) dan yang bisa dipakai seperti kalung, bros dll.
Tapi ngomong-ngomong soal buku karangan Indira... I must say I think she (or he?) is a little bit mysterious. Di bukunya sama sekali tidak ada fotonya. Namanya juga hanya Indira, nggak ada embel-embel lain. Selain nama yang singkat itu, data lain tentang si penulis hanya alamat e-mailnya di yahoo.com.

Selain kedua buku (ditambah buku import yang aku dapat dari tukang buku loak yang sudah pernah aku ceritakan sebelumnya di blog) aku nggak atau belum pernah beli buku lain tentang clay. Maunya sih beli buku import dari Jepang tentang clay... Harganya tus-tus (meletus!). Cuma bisa dipegang-pegang, dibaca halaman dalamnya beberapa lama (nggak bisa lama karena SPGnya berdiri dekat-dekat aku, he he he) terus dikembalikan lagi ke atas rak pajangnya di Gramedia. Lalu pergi menjauh sambil tarik napas..., 'bye bye pricey imported book from Japan that I can't afford...hiks! Remember my sad face when you have been bought by some lucky person other than me...'Bye Bye

05 Juni, 2008

Kalung (lagi) dari clay tepung



Satu lagi (beberapa deenggg...) kalung dari clay tepung.
Supaya lebih 'ndangndut' aku kasih tambahan berlian dari plastik atau di pasaran disebutnya berlian gosok. Berlian ini dibagian belakangnya diberi lapisan lem yang akan melekat pada kain apabila disetrika/digosok pada kain. Harganya murah. Aku beli segabrek di Pasar Pagi Mangga Dua lantai 3 (as usual...taman bermain aku nih!). Ada juga yang lebih mahal dan kilaunya jauh lebih 'jreng'. Dari kristal Swarovski asli. Tapi untuk clay tepung dan untuk kelas amatiran seperti aku, berlian gosok plastik seperti ini sudah cukup oke.


Waktu bikin ini, membentuknya per kelopak dibentuk dan ditempel satu demi satu. Kalau mau cara lebih mudah, bisa pakai cetakan kue kering. Adonan clay ditaruh di antara dua lembar plastik. Gilas pakai penggilas adonan kue kering, atau pakai botol bekas atau pipa. Ingat jangan sampai terlalu tipis, nanti kalau kering bisa keriting. Lalu tinggal dicetak pakai cetakan kue kering, jangan lupa dikasih lubang untuk tali kalung memakai bantuan sedotan.

04 Juni, 2008

Kalung Polkadot

Hallo Bloggie doggie.

Lupa, belum pamer kalung dari clay tepung yang ini. Membuatnya guampang! Adonan clay ditaruh diantara dua lapis plastik, lalu digilas pakai penggilas kue kering (bisa juga pakai pipa pralon, atau botol bekas, atau pipa penggilas khusus untuk clay kalau punya). Ingat, jangan digilas sampai terlalu tipis karena nanti setelah kering bentuknya bisa agak keriting.
Setelah digilas, cetak bentuk bulat pakai cetakan kue kering atau pakai gelas yang pinggirannya sudah diberi sedikit tepung (supaya clay mudah dilepaskan dari gelas). Buat lubang untuk tali kalung memakai sedotan. Angin-anginkan hingga setengah kering. Ini untuk gantungan kalung.

Buat bola-bola clay kecil dari warna-warna lain. Lekatkan pada gantungan kalung di atas dengan bantuan sedikit lem putih. Tekan dengan ujung jari sehingga bola-bola clay tersebut menjadi pipih. Tempelkan berlian plastik atau berlian tempel di atas bola-bola tersebut memakai sedikit lem putih juga. Berlian plastiknya ditekan sedikit supaya 'tertanam' ke dalam lapisan clay.
Biarkan hingga kering betul. Gantungan kalung atau leontin dari clay tepung sudah jadi! Tinggal masukkan tali untuk kalung. Aku pakai tali kulit imitasi, tapi bisa pakai tali/cord satin, tali kulit asli atau pakai rantai.

Jepit kedua ujung tali kalung memakai alat seperti ini:
Belinya di toko-toko yang menjual peralatan membuat aksesoris atau peralatan menjahit. Untuk di Jakarta contohnya di Pasar Rawabening - Jatinegara atau di Pasar Pagi Mangga Dua lantai 3. Ujung tali tinggal diselipkan di dalam celah, lalu dengan bantuan tang celah itu dirapatkan sehingga menjepit tali kalung. Maaf ya gambar atau keterangannya nggak bisa lebih jelas lagi.

Lalu untuk kait kalung bisa pakai yang seperti ini:



03 Juni, 2008

Clay Tepung Jamuran #2

Weleh-weleh...baru buka blog sudah ada comment dari din-din tentang jamur pada clay tepung. Suka deh...akhirnya blog aku nggak sepi-sepi amat. Ada reaksi dari orang lain. Jadi nggak seperti ngomong sendiri gitu Big Smile

Supaya lebih mudah untuk dibaca sama yang lain yang mungkin berminat (dan mungkin ada yang baca), aku copy aja comment-nya di sini:

"...kalo din pribadi, ga sreg kalo bikin clay dari tepung makanan, karena resiko berjamur itu pasti ada, kan malu yah kalo berjamur saat udah dibeli orang, bisa2 ga laku dah dagangan kita. Atau misalnya kita kasih hadiah ke temen, tau2 jamuran wedeewww maluuu dah...Oh ya mungkin ada temen2 yang minat ama tepung clay asli korea, Din masih ada stocknya, harganya RP.25 rb, sewadah Aqua gelas kalo ga salah, ga pernah nimbang, udah packing! Tinggal dicampur dengan lem putih! Clay ga bakal jamuran dah, soalnya itu tepungnya asli clay bukan bahan makanan spt tertera di buku2 yang saat ini banyak beredar!..."

Tuh, ada mainan baru... clay tepung garansi anti jamur. Mungkin ada yang berminat? Yang berminat hubungi saja Din-din. Kalau harganya 25ribu sebesar gelas Aqua gelas, berarti harganya apa lebih murah, sama atau lebih mahal daripada polymerclay seperti merk Fimo, Sculpey dll itu? Buat aku pribadi...sekarang masih dalam tahap belajar, kalau pun mau dijual gak tahu kemana jualnya dan apa ada yang mau beli? Kalau nanti aku mau jualan (dan ada yang mau beli) memang lebih baik dibuat dari bahan-bahan yang paten, anti jamur seperti tepung clay punya Din-din, paper clay atau sekalian polymer clay (yang nggak musuhan sama air alias waterproof).

Clay Tepung Jamuran

Waduhh...sudah lama blog ini aku cuekkin... Gimana ya, aku males bikin posting yang nggak ada fotonya, rasanya nggak seru. Kalau bikin-bikin dari clay sih masih. Bikin kue yang lagi pensiun dulu sebentar, karena oven di rumah mogok kerja setelah berpuluh tahun mengabdikan diri.
Malam ini aku lagi terkena serangan insomnia, buka internet dan nengok blog, ternyataYayan punya masalah dengan jamur. Maaf ya jawabnya baru sekarang. Aku juga sering kena jamur... eh maksudnya clay buatanku yang kena jamur, bukan orangnya (kalaupun iya orangnya yang jamuran, nggak ada yang tau 'kan? he he he). Penampilan clay jadi seperti agak berbulu, kalau permukaannya dipegang seperti ada tepung-tepung atau debunya (atau mungkin memang beneran debu?) Happy , warna clay jadi kusam jelek. Betul nggak? Kemungkinannya ada beberapa, aku juga belajar dari pengalaman yang belum lama, mudah-mudahan bisa membantu.

Clay jamuran mungkin karena pemberian pengawet makanan dalam adonan clay kurang banyak. Sayangnya aku nggak pernah mengukur berapa gram pengawet makanan yang dimasukkan ke dalam clay (soalnya di dalam buku-buku para pakar juga tidak diberi tahu ukuran gram persisnya). Tapi kira-kira aja, kalau memakai ukuran 1 cup untuk masing-masing jenis tepung (ukuran cup yang biasa dipakai dalam resep Amerika, biasa dijual dalam bentuk 1 set, ada 1 cup, 1 sendok makan, 1 sendok teh, 1/2 sendok teh dst) aku biasanya menambahkan pengawet makanan nggak kurang dari 1 sendok makan. Lebih sedikit menurut aku juga nggak apa-apa, toh clay ini pada akhirnya bukan untuk dimakan, iya nggak?

Kemungkinan kedua, mungkin clay belum benar-benar kering sudah disimpan di dalam tempat tertutup. Waktu untuk pengeringan ini nggak bisa seragam (tergantung tipis-tebalnya clay dan suhu udara). Clay yang tebal tentu butuh waktu pengeringan yang lebih lama. Tempat tertutup di sini bisa berupa lemari pajangan yang ada pintu dari kaca, kotak mika atau kantong plastik. Yang terakhir ini yang aku pakai untuk menyimpan clay supaya tidak kena debu. Rupanya, tempelan lemari es atau magnet dari clay yang aku simpan di dalam kantong plastik belum benar-benar kering. Yang kering ternyata baru permukaan luarnya saja, lapisan dalam masih lembab. Hasilnya hampir semua tempelan lemari es itu berjamur. Terpaksa aku keluarkan lagi dari kantongnya, dijemur ulang sampai benar-benar kering.
Elise dari claygeek.wordpress.com pernah memberi saran dijemur di depan kipas angin supaya clay lebih cepat kering.

Kemungkinan ketiga, keadaan negara kita yang tropis dan lembab sehingga pada dasarnya jamur memang lebih gampang berkembang biak. Clay yang dilapisi vernis setelah kering benar (misalnya pakai cat pylox bening atau cat kuku bening) lebih tahan terhadap serangan jamur dibandingkan clay yang polos. Tapi, ada tapinya... Penampilan clay jadi mengilap (bahasa indonesia yang betul mengilap atau mengkilap atau mengkilat ya?) Ada yang lebih suka clay yang matte, tidak mengilap, jadi tidak pakai vernis. Ini sih tergantung selera.

Jangan lupa juga untuk cuci tangan (minimal tangan jangan kotor berdebu) sebelum memegang adonan clay.

Resepnya baru ada empat. Mudah-mudahan bisa mencegah masalah jamur pada clay tepung. Lain kali kalau terpikir resep lain aku tambahkan lagi di sini. Atau mungkin ada yang punya resep lain?