31 Desember, 2008

27 Desember, 2008

Kukis Hias


Kukis yang menurut rencana awal : hiasan wajah orang


Yang bunga-bunga ini mungkin lebih cocok untuk tema pernikahan ya? Happy


Kraans (gimana nulisnya?) Natal



Lama gak isi blog. Karena males, bosen, ga tau mau tulis apa, ditambah beberapa hari belakangan komputerku ngadat. Kegiatan terakhir yang layak masuk blog adalah: Kukis hias yang aku buat untuk bingkisan Natal kepada saudara. Membuat adonan kukisnya sudah dari dua hari sebelumnya, disimpan di lemari es di dalam mangkok yang ditutup aluminium foil. Beberapa hiasannya sudah juga dibuat jauh hari sebelumnya, berupa wajah-wajah orang dari fondant. Awalnya ingin membuat hiasan kukis yang berbentuk muka orang, kira-kira untuk menggambarkan wajah anggota keluarga yang akan menerima bingkisan kukis ini. Tapi akhirnya, kukis yang beneran memakai hiasan seperti itu hanya beberapa. Selebihnya kreasi bebas, bentuk apa pun yang kira-kira masih berada di dalam tema Natal. Tanggal 24 Desember itu aku kerja seharian penuh, dimulai dari selesai shalat subuh terus sampai jam setengah duabelas malam. Membuat kukis 2 resep, mencetak, menghias (bagian ini aku dibantu kakakku) dan akhirnya membungkus kukis satu per satu di dalam kantong plastik. Sebetulnya, kerja itu juga ditambah pekerjaan rumah tangga, maklum di rumah sedang tidak ada yang bantu-bantu. Malam itu, sambil kedua tangan sibuk membungkus kukis, aku jadi mikir, "Wah, aku sibuk bikin kukis untuk bingkisan Natal. Sementara Lebaran kemarin aja aku gak bikin kue sama sekali! Happy "
Hasilnya begadang selain kukis dengan hiasan fondant seperti di foto-foto ini, aku juga dapat bonus batuk dan pilek Sickened.

10 Desember, 2008

Hiasan Dinding Menyambut Natal 2008



Awalnya aku bikin satu untuk diberikan ke sahabat yang akan merayakan Natal tanggal 25 Desember yang akan datang. Maksudku, hiasan dinding ini sebagai pengganti kartu ucapan Natal biasa. Terbuat dari kayu, kalau mau di bagian belakang yang dibiarkan polos tidak diberi cat bisa ditulis pesan atau ucapan dan tanda tangan kita untuk si penerima. Setelah jadi satu, kok jadi keterusan bikin yang lain, yang lain dan yang lain... Glitter dan bling-bling plastik menjadi hiasan tambahan supaya lebih ceria. Lapisan vernis diberi tiga lapis supaya mengilat. Dari empat yang aku buat di atas, satu sudah diberikan ke teman, satu lagi akan diberikan ke sahabatku, tinggal dua yang belum ketahuan nasibnya niy... Apa ada yang mau beli? Semua hiasan dinding ini dikemas di dalam kotak berwarna hijau pakai jendela dari plastik mika. Tidak ada satu pun yang sama lho, namanya juga handmade...


09 Desember, 2008

Shooting Untuk DAAI-TV euy!

Director Action ACTION!

Akhirnya, hari ini shooting untuk DAAI-TV. Mbak Retta dari DAAI-TV menghubungi saya pertama kali lewat blognyasita. Pertama kali terima email dari mereka, ada rasa gak percaya. Kenapa mereka menghubungi aku? Kan ada banyak yang lebih jago bikin-bikin daripada aku! Apa mungkin cuma orang iseng yang ngaku-ngaku dari sebuah stasiun televisi swasta? Jadi, di awal-awal aku nggak mau terlalu mikirin, dan kebetulan selama satu minggu kemarin aku sibuk banget dengan pekerjaan lain. Baru setelah mbak Retta itu menelpon kembali hari Sabtu yang lalu untuk konfirmasi, nah baru deh aku bener-bener percaya. Singkatnya, aku diminta mengisi salah satu acara untuk anak-anak dengan mengajarkan secara singkat clay tepung. Hiyaa...waktu pengambilan gambar untuk cara pembuatan clay tepung, dari mulai mencampur bahan-bahan resep sampai membentuk hiasan dari clay aku sih gak merasa gugup atau camera shy. Lha wong yang kelihatan cuma kedua tangan aja (eh, aku rasa sih begitu ya, kayaknya kameranya selalu mengarah ke tangan dan bukan ke mukaku...tapi kalau dipikir-pikir sekarang kok ya ga yakin juga Ponder ). Entah nanti waktu penayangan di TV jadi berapa menit? Pengambilan gambarnya sih satu jam lebih gitu... Mas kameramen bolak-balik nyuruh aku untuk mengulang beberapa bagian, padahal cuma mengambil adonan, menguleni adonan waktu mencampur cat. Begini aja diulang-ulang apalagi kalau akting satu cerita gitu ya? Nah, setelah pengambilan gambar "Cara Membuat" selesai, ternyata ada bagian "Wawancara". Aku jadi salah tingkah, mau wawancara apa? Kayak pakar aja diwawancara segala! Terus aku mikir, widih tampangku gimana nanti ditangkap di kamera? Mukaku berminyak ga? Rambutku yang ga ada potongannya begini apa ga keliatan kayak buntut tikus kecebur? Tapi mbak Retta bilang nggak apa-apa kok... Yah, menyerah aja deh, mau diapain lagi. Think positive thought. Take a deep breath aaandd ... action!
Bagaimanapun, aku juga sudah bilang mbak Retta, aku memulai kerajinan dari clay tepung ini setelah membaca bukunya Ibu Monica dan Ibu Indira. Bahkan ada satu bagian dimana aku menunjukkan buku karya kedua orang tersebut di dalam pengambilan gambar. And I told them I am not an expert and am not the one who made the recipe of this kind of homemade air dry clay. Aku hanya ingin menyebarkan hobby berkerajinan tangan, khususnya berkreasi dengan clay tepung karena bahannya yang mudah dan murah. Apalagi untuk anak-anak, bisa membantu menambah kreativitas dan koordinasi tangan (gaya banget ngomongnya!) mereka. Dan berbeda dengan lilin mainan biasa yang ngga bisa mempertahankan bentuknya, barang hasil clay tepung bisa bertahan lama dan bisa menjadi berbagai macam barang seperti kalung, pajangan di meja, bros, anting, penghias kartu ucapan dan banyak lagi yang lain.
Jadi, pengambilan gambar hari ini menurut rencana akan ditayangkan akhir Desember pada hari Minggu. Sayangnya aku lupa mencatat nama acaranya, pokoknya itu acara untuk anak-anak di DAAI-TV hari Minggu sore. Sayangnya lagi di rumah aku pakai tv berlangganan dan ga bisa menangkap DAAI-TV... Nanti kalau mau nonton aku harus nebeng dulu di rumah saudara atau teman. Dan sayangnya yang lain lagi (ketiga kali bo!) aku lupa memotret shooting itu dengan kameraku sendiri untuk arsip pribadi. Apa karena demam panggung? Dasar ga bakat jadi artis sinetron, wakakak Laugh. Nanti aku kabari lagi deh tanggal penayangan di TV setelah dapat kabar dari mereka Photobucket

05 Desember, 2008

Buku Sukses Berbisnis Kue

Halo-halo, aku baru beli buku niyy... Buku Sukses Berbisnis Kue ini ditulis oleh dua ibu muda yaitu Ita Kustina dan Dhiandra Novrina Diyanti, berdasarkan pengalaman mereka berjualan kue dan makanan ringan lain selama beberapa tahun. Kedua penulis juga anggota komunitas Bundainbiz. Selain itu Dhiandra N. Diyanti juga pendiri dari komunitas kuliner www.OrangeKitchen.net. Isi buku ini berupa panduan praktis dan lengkap mengenai seluk beluk usaha kuliner. Ada banyak tips yang sangat berguna bagi mereka yang ingin mencoba berjualan kue (atau makanan lain) hasil dapur sendiri. Beberapa yang menurut saya menarik adalah tips mengenai Cara menentukan upah bagi tenaga kerja dan Cara menentukan harga produk. Dua point tersebut jadi alasan utama kenapa saya membeli buku ini. Penjelasannya nggak rumit, orang yang ilmu berhitungnya mentok di level pemula seperti aku (kemana-mana harus bawa kalkulator) masih bisa ngerti kok .
Harganya juga masih di bawah Rp50.000, kalau tidak salah sekitar Rp30.000 lebih (tanggal beli pertengahan November 2008).

Sukses Berbisnis Kue
Penulis: Ita Kustina dan Dhiandra Novrina Diyanti
Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka.
108 halaman
http://www.mizan.com

02 Desember, 2008

Boneka Clay (lagi)



Boneka clay yang satu ini bajunya terbuat dari kain. Ribet memang, kesabaran hampir habis waktu bagian menjahit bajunya. Rambutnya dari benang wool. Aku lumayan suka dengan hasilnya (bajunya masih belum rapi) tapi untuk bikin lebih banyak agak mikir dua kali karena harus menjahit baju boneka dengan ukuran mini. Bonekanya aku potret diantara kedua kaki Bowi. Hampir saja si boneka masuk ke mulut monster berbulu panjang dan berkaki empat itu, karena Bowi kira dia boleh main dengannya setelah pemotretan selesai. Weehh...enak aja! Bikinnya susah Bow!

29 November, 2008

Cara Membuat Beberapa Simpul Pita



Minggu depan sudah bulan Desember. Mereka yang beragama Kristen pasti sudah mulai sibuk mempersiapkan Natal ya? Mungkin sudah pasang pohon Natal yang dihias dengan cantik dengan lampu kerlap-kerlip di tengah ruang keluarga. Sudah mulai beli hadiah untuk anggota keluarga dan teman? Pasti hadiah tersebut sebelum diberikan dikemas dengan cantik juga. Kalau mau belajar bagaimana caranya membuat simpul-simpul pita untuk menghias hadiah, coba lihat ke website The Container Store (tinggal klik aja yang hurufnya tebal itu). Bukan hanya yang mau Natalan saja kan yang butuh belajar cara membuat beberapa macam simpul pita untuk menghias kado / hadiah kita?

Foto-foto diambil dari / pictures taken from http://www.containerstore.com



28 November, 2008

Resep Clay Tepung

Photobucket
Pada posting sebelum ini, di awal-awal halaman blognyasita, aku menulis resep clay tepung yang ukurannya hanya pakai perbandingan. Selama ini memang aku nggak pernah benar-benar mengukur berapa gram lem putih / lem FOX yang dibutuhkan untuk membuat adonan clay tepung yang pas. Patokanku selama ini hanya 'feeling' ditangan pada waktu membuat adonan. Kalau sudah terasa tercampur rata, adonan tidak terasa kering ataupun basah itu artinya adonan clay sudah jadi. Mungkin karena aku biasa membuat adonan kue kering atau roti ya? Tapi, kali ini aku mencoba mengukur berapa gram lem putih yang diperlukan supaya lebih jelas dan lebih mudah , nggak pake 'feeling' lagi Happy

Cute Resepnya adalah:
  • tepung terigu 40 gr
  • tepung beras putih 40 gr
  • tepung tapioka / kanji 40 gr
  • pengawet makanan dalam bentuk bubuk (benzoat atau sejenis) 2 sdt
  • lem putih atau lem PVAc 120 gr
Cute taruh semua bahan lalu aduk atau campur dengan tangan yang bersih dan kering. Uleni adonan dengan tangan hingga semua bahan-bahannya tercampur rata. Bersihkan sisa-sisa adonan yang menempel di tangan, campurkan ke dalam adonan besar. Simpan adonan clay tepung yang sudah tercampur ini di dalam kantong plastik, tutup kantongnya lalu simpan kantong berisi adonan clay di dalam kotak plastik supaya adonan terlindung dari udara sehingga tahan lama. Sebelum membentuk, cuci tangan bekas menguleni adonan dengan air terlebih dulu.
Oh ya, satu lagi, kalau membuat adonan dengan resep di atas dan memakai lem yang masih bagus, pemakaian hand body tidak dibutuhkan. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, hand body / krim pelembab ditambahkan hanya bila adonan clay sudah agak kering.

Sekali lagi, pilihan cat yang dipakai adalah cat air, cat poster, cat akrilik.

Kalau mau mengilap, setelah pajangan kering benar disemprot cat pilox bening / clear, atau vernis akrilik atau cat kuku / nail polish warna bening.

Photobucket

25 November, 2008

Kue Kering Havermut



Sore-sore musim hujan begini enaknya minum teh hangat sambil makan kue. Beberapa hari yang lalu aku bikin kue kering havermut. Resep lama yang sudah sering aku bikin untuk teman minum teh di rumah. Rasanya enak, gak terlalu manis sesuai selera saya, menteganya terasa dan juga ada krenyes-krenyes dari havermutnya. Bikinnya gampang dan bahan-bahannya gak ada yang mahal. Untuk mencetaknya juga tidak diperlukan cetakan kue kering, hanya pakai dua sendok dan garpu. Mau coba?

Photobucket Resepnya:
75 g gula halus
100 g mentega (atau kombinasi dgn margarin setengahnya)
1 butir telur
100 g tepung terigu diayak
100 g havermut

Photobucket Caranya:
kocok gula dan mentega sampai putih dan naik. Masukkan telur, kocok lagi sebentar hingga tercampur rata. setelah itu, masukkan tepung dan havermut, aduk rata dengan spatula atau sendok.

sediakan loyang yang sudah diolesi margarin dan ditaburi tepung. Bisa juga mengalasi loyang dengan kertas minyak. Ambil adonan memakai sendok, lalu dengan bantuan sendok lain bentuk menjadi bulat dan letakkan di atas loyang. Ulangi lagi, taruh di atas loyang dengan memberi jarak karena kue kering ini mengembang pada saat dibakar. Setelah itu, tipiskan adonan di atas loyang dengan garpu. Sendok yang dipakai bisa sendok teh (untuk kue kering berukuran kecil atau sedang) atau sendok makan untuk kue kering berukuran besar.

Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan sebelumnya dengan panas sedang sampai masak dan warnanya kekuning-kuningan.
Photobucket

13 November, 2008

Recycled Plastic Bottle

How to make a piggy bank from a recycled plastic bottle.

Membuat celengan dari botol plastik bekas air mineral, jus buah dll.


Bahan:
  • botol plastik bekas minuman, potong bagian ujung
  • kertas koran digunting panjang
  • lem putih dicampur air perbandingan 1:1 (supaya cair)
  • kuas untuk menyapukan lem
Materials:
  • plastic bottle (from fruit juice, mineral water etc), cut the top off
  • strips of newspaper
  • white craft glue diluted with water (about 1:1)
  • paint brush for applying the diluted glue on to the plastic bottle

Sapukan lem putih yang sudah dicampur air ke atas permukaan botol memakai kuas. Tempel satu lembar potongan kertas koran. Sapukan lagi lem lalu tempel selembar potongan koran, demikian seterusnya hingga menutupi seluruh permukaan botol plastik. Lakukan hal ini hingga beberapa lapisan. Semakin tebal lapisannya, semakin kuat permukaan botolnya. Banyaknya lapisan tergantung pada ketebalan plastik botol.
Bagian bawah botol plastik jangan dilapis kertas koran. Biarkan polos. Bagian ini untuk mengambil isi celengan (dengan memakai pisau) bila celengan sudah penuh nantinya.

Cover the bottle with 2 or more layers of glue and newspaper (depends on the thickness of the plastic bottle). Do not cover the bottom of the bottle. Leave the bottom as it is, this will be the part where you can open the piggy bank with a knife to get the money out Smile.


Biarkan hingga kering betul, setelah itu cat seluruh permukaan yang dilapis kertas dengan cat putih (cat akrilik atau cat poster). Biarkan lagi hingga cat kering.

Leave it until the glue is completely dry. Paint the entire newspaper layer with white paint (acrylic or poster paint) and let it dry.

Setelah cat dasar kering, baru warnai bagian baju dan muka boneka. Biarkan hingga cat ini kering, lalu tutup bagian kepala dengan rambut dari clay. Gambar atau lukis mata dan mulut memakai spidol atau cat. Buat hidung dari clay lalu tempel pakai lem putih.

Paint the cloth and face of the doll. Let it dry and then cover the top of the bottle with hair made from clay. Draw or paint the eyes and mouth with felt pen or paint. Make a nose from clay and stick it into place.


Buat lubang pada clay sebagai tempat memasukkan uang. Biarkan hingga kering.

Make a cut for coins on the top of the head with a sharp pointed knife. Leave the clay to dry.


Tambahkan rok dari kain perca (disini pakai kain felt). Rekatkan pada botol pakai lem tembak. Hias sesuka hati dengan manik-manik, pita, renda dll.

Make a skirt from felt or fabric. Glue it to the plastic bottle using a glue gun and decorate the skirt and or the doll with beads, ribbon, lace etc.
Voila! Magic Trick Celengan dari botol plastik bekas sudah jadi.

10 November, 2008

Nihon no Matsuri







Foto-foto ini diambil pada acara Nihon no Matsuri* atau Festival Jepang yang diadakan pada Japan Indonesia Expo 2008 di arena PRJ Kemayoran Jakarta. Kemarin malam, 9 November, adalah acara penutupan. Pengunjungnya padat sekali. Antrian ada dimana-mana, terutama di stand-stand yang menjual makanan khas Jepang dan Obatake alias atraksi rumah hantu a la Jepang. Acaranya padat, sampai bingung menentukan pilihan. Apalagi kalau pergi beramai-ramai, yang satu mau nonton cosplay terus-terusan, yang satunya mau mencicipi semua makanan Jepang yang tersedia, yang satunya lagi mau lihat semua pertunjukan tarian, nyanyian dan kerajinan Jepang yang digelar di sana. Sedangkan tempat pertunjukannya beda-beda. Acaranya antara lain pertandingan cosplay dan kabaret cosplay, demo ikebana, demo upacara minum teh, demo kimono, pertunjukan honoo-daiko (bedug Jepang), pertunjukan musik dll.
Acara puncak adalah KANTOH dan Mikoshi** yang dilakukan di arena luar PRJ di bawah langit Jakarta yang malam itu kebetulan sekali tidak hujan dan tidak berangin kencang. Karena ada atraksi membawa semacam gunungan berbelas-belas (mungkin lebih) lampion yang diikat pada bambu dan dibawa oleh satu orang secara bergantian sambil menunjukkan kebolehannya menjaga keseimbangan (dan kekuatan) memainkan gunungan lampion. Lilin-lilin di dalam semua lampion itu dinyalakan. Mudah-mudahan foto-foto di sini bisa sedikit menunjukkan keindahan atraksi tersebut.



*) Matsuri (祭?) is the Japanese word for a festival or holiday. In Japan, festivals are usually sponsored by a local shrine or temple, though they can be secular.
There is no specific matsuri days for all of Japan; dates vary from area to area, and even within a specific area, but festival days do tend to cluster around traditional holidays such as Setsubun or Obon. Almost every locale has at least one matsuri in late summer/early autumn, usually related to the rice harvest.
Notable matsuri often feature processions which may include elaborate floats. Preparation for these processions is usually organized at the level of neighborhoods, or machi. Prior to these, the local kami may be ritually installed in mikoshi and paraded through the streets.
(Wikipedia)


**) A mikoshi (神輿?) is a portable Shinto shrine. Shinto followers believe that it serves as the vehicle of a divine spirit in Japan at the time of a parade of deities. Often, the mikoshi resembles a miniature building, with pillars, walls, a roof, a veranda and a railing. Typical shapes are rectangles, hexagons, and octagons. The body, which stands on two or four poles (for carrying), is usually lavishly decorated, and the roof might hold a carving of a Phoenix.
During a matsuri, or Japanese festival, people bear a mikoshi on their shoulders by means of the two or four poles. They bring the mikoshi from the shrine, carry it around the neighborhoods that worship at the shrine, and in many cases leave it in a designated area, resting on blocks, for a time before returning it to the shrine.
(Wikipedia)


foto Mikoshi dari Wikipedia